KBI Gemari - Jumat, 28 Nopember 2014
Username

Password


 
 
Apa yang paling anda butuhkan dalam kondisi saat ini ?
Tersedianya lapangan kerja
Peningkatan pendidikan keterampilan kewirausahaan secara gratis
Kemudahan mendapatkan modal usaha bagi pengusaha/pengrajin kecil
  
 
Yayasan Dana Abadi Karya Bakti

Yayasan Gotong Royong

Stop Press

Gemari Online
:: Artikel ::
POKOK-POKOK PIDATO TENTANG MEMBANGUN PEMIMPIN MASA DEPAN YANG PEDULI TERHADAP KEMANUSIAAN

13 October 2004

Assalamualaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera
Bapak Rektor yth,
Bapak Pimpinan Yayasan Universitas Islam Majapahit yth,
Para Guru Besar dan Dosen Pengajar yth,
Seluruh Civitas Akademika yth,
Para Mahasiswa yth,
Para Orang Tua Mahasiswa yth,
Hadirin yang mulia.

Dengan diiringi puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih atas undangan menyampaikan pidato dalam rangka Wisuda Universitas Islam Majapahit pada hari ini. Undangan ini merupakan kehormatan sekaligus kesempatan untuk menyampaikan Selamat kepada Pimpinan Yayasan dan Pimpinan Universitas Islam Majapahit yang telah sanggup mengantar dan mendampingi mahasiswa menyiapkan diri terjun ke dalam masyarakat Indonesia untuk berjuang demi masa depan yang maju dan sejahtera.
Kami seluruh pengurus Yayasan Damandiri dan Lembaga Indonesia untuk Pengembangan Manusia (LIPM) mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Yayasan, Bapak Rektor dan seluruh civitas akademika atas kesempatan yang diberikan pada saat ini. Kehormatan ini akan saya pergunakan sebaik-baiknya untuk mengajak Universitas Islam Majapahit khususnya, dan perguruan tinggi pada umumnya, mengembangkan peran baru dalam abad ke 21 menciptakan kader-kader pemimpin baru, tetap dengan berlandaskan Pancasila, dalam suasana Indonesia yang berubah, transisi demokratis yang menarik, penuh dengan tantangan. Perubahan ini memerlukan pemimpin yang sanggup mengelola perubahan dengan tugas pokok membantu pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui pengembangan manusia profesional, bermutu, mandiri, demokratis dan berbudaya.

Dalam kesempatan mengembangkan pidato ini saya diilhami oleh buku Janet Lowe yang membawakan pikiran-pikiran Jack Welch dalam buku Jack Welch Speaks dengan anjuran dikembangkannya Leaders bukan Managers untuk menghadapi abad ke 21 yang penuh perubahan. Pikiran-pikiran sang maestro yang tajam dan jauh menjangkau masa depan sungguh tepat untuk direnungkan dan dikembangkan dalam alam reformasi dan transisi yang marak dewasa ini. Lebih-lebih lagi, saya juga sangat terpengaruh oleh buku Management Challenges for the 21st Century, karya Peter F. Drucker yang menganjurkan pengembangan manajemen bisnis, strukturorganisasi yang tepat, dan penataan slumber daya manusia yang jitu untuk menghadapi abad ke 21 yang penuh perubahan.
Pikiran-pikiran itu tidak bisa dilupakan ada kaitannya yang erat dengan ramalan dari Alfin Toflerakan munculnya struktur baru dalam setiap tingkatan masyarakat masa depan berhubung berkembangnya ilmu pengetahuan dan tehnologi. Menurut Tofler dengan bekal ilmu pengetahuan dan tehnologi sebagai kekuatan baru diharapkan bangsa-bangsa di dunia mampu mengangkat kesejahteraan umat. Perjuangan masa depan tidak lain adalah membangun kekuatan yang tertuju pada upaya memberdayakan masyarakat dengan memperkaya pikiran dan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu banyakyang percaya bahwa empire atau kekaisaran yang akan sanggup bertahan dalam abad ke 21 adalah empire yang dibangun di dalam pikiran manusia-manusia baru yang bermutu, mandiri, demokratis dan berbudaya serta menghargai manusia sesuai dengan hak-hak azasinya.
Perguruan Tinggi yang menghasilkan sarjana perlu memperhatikan anjuran tokoh bisnis terkenal Jack Welch untuk menciptakan pemimpin masa depan, bukan sekedar manajer. Pemimpin yang menurut Peter F. Drucker sanggup mengelola perubahan masa depan. Pemimpin masa depan bukan lagi pemimpin yang bisa berdiri tegak dengan tegar dan pandai menepuk dada karena menjadi pemenang dari kompetitornya. Tetapi, pemimpin masa masa depan adalah kampiun yang mampu mengembangkan kerjasama. Seseorang yang mempunyai jaringan yang efektif dan dengan cekatan sanggup menggerakkan jaringan itu untuk memuaskan langganannya atas kebutuhan yang diperlukannya dengan dinamika yang sangat tinggi.
Pemimpin masa depan melihat perubahan sebagai kesempatan. Pemimpin masa depan mencari perubahan, mengetahui perubahan yang tepat, dan mengetahui bagaimana memanfaatkan perubahan itu untuk menguntungkan organisasi secara internal maupun secara eksternal. Karena itu, menurut Peter F. Drucker, perlu selalu
dikembangkan kebijaksanaan untuk menyongsong masa depan, metoda yang sistematik untuk mencari dan mengantisipasi perubahan, cara terbaik untuk memperkenalkan perubahan, dan bagaimana membuat keseimbangan yang menguntungkan antara perubahan dan kontinuitas yang tetap harus menguntungkan suatu lembaga atau perusahaan.

Bagi Indonesia pikiran-pikiran yang tetap berpegang pada posisi yang dimasa lalu menguntungkan, tanpa antisipasi masa depan, bisa dianggap kuno. Kita baru saja melihat suatu kenyataan politik yang menarik. Masyarakat kita sanggup mengikuti perubahan karena transformasi politik secara sistematis dan damai. Wewenang yang sangat kuat berada di tangan birokrasi secara bertahap diserahkan kepada masyarakat. Pemerintahan yang bersifat sentralistik dikembangkan menjadi pemerintahan yang desentralistik, dengan harapan makin dekat dengan rakyat. Presiden dan Wakil Presiden yang selama bertahun-tahun dipilih oleh MPR, suatu elite politik yang jumlahnya sedikit, diserahkan kepada rakyat banyak secara langsung. Perubahan itu ternyata berlangsung dengan bijaksana. Memang ada sedikit gejolak. Pemimpin yang tidak mengantisipasi perubahan, cara pandangnya berbeda dengan rakyat banyak. Banyak yang salah tebak dan tidak siap mengantisipasi perubahan dan melakukan penyesuaian.
Para mahasiswa yang hari ini diwisuda sungguh beruntung. Perubahan dalam bidang politik tidak berdiri sendiri. Kita sungguh bersyukur bahwa pembangunan nasional secara besar-besaran selama ini telah berhasil membawa bangsa dan rakyat Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berdaulat. Tingkat kesehatan penduduk bertambah baik sehingga usia harapan hidup meningkat menjadi sekitar 65-70 tahun. Kenaikan Usia Harapan Hidup didukung penurunan tingkat pertumbuhan penduduk dari angka keramat diatas 2 persen menjadi sekitar 1,2-1,3 persen setiap tahunnya.
Kemajuan tersebut diikuti meningkatnya cakupan dan mutu bidang pendidikan. Cakupan pendidikan dasar telah mulai memberikan gambaran yang menarik. Lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama mulai menunjukkan mutu yang cukup menggembirakan. Namun cakupan dan mutu pendidikan menengah atas masih perlu lebih ditingkatkan lagi.
Apabila pembangunan di masa depan bisa diarahkan lebih baik, kegiatan dan hasil-hasil pembangunan bisa mendorong perbaikan kualitas manusia Indonesia. Kesempatan untuk itu terbuka lebar. Krisis ekonomi yang berlanjut menjadi krisis multidemensi telah menyebabkan kualitas penduduk Indonesia dibandingkan kondisi negara Asean lainnya, yang selama ini selalu tertinggal, bukan bertambah baiktetapi malah makin jauh tertinggal. Pada penerbitan UNDP tahun 2004 dilaporkan bahwa nilai Human Development Index (HDI), Indonesia berada pada urutan ke 111 dari 177 negara di dunia, jauh dibawah negara ASEAN lainnya.
Biarpun kualitasnya masih relatif rendah, pada awal kemerdekaan jumlah penduduk yang besar telah mampu menjadi kekuatan penggerak perjuangan, sehingga penjajah sempat kocar kacir ketakutan. Karena itu Pemerintah melalui Presiden Sukarno berusaha keras mempersatukan penduduk yang besar itu sebagai kekuatan pendukung upaya melepaskan Indonesia dari belenggu penjajah.
Namun setelah proklamasi dan upaya mempertahankan kemerdekaan makin memperlihatkan hasil, bangsa Indonesia harus membangun untuk mencapai kemakmuran yang dijanjikan. Upaya mengisi kemerdekaan tidak cukup dikerjakan dengan otot dari penduduk yang jumlahnya besar saja, tetapi harus lebih banyak dengan otak dan penemuan-penemuan yang memberi nilai tambah yang tinggi. Karena itu ada pergeseran cara bangsa kita melihat penduduknya. Upaya mempersatukan kekuatan besar diisi lebih lanjut dengan upaya peningkatan kualitas agar penduduk yang besar dapat mengisi kemerdekaan dengan kualitas yang dapat dipertanggung jawabkan. Penduduk dibimbing mempunyai tingkat kesehatan yang prima, tingkat pendidikan yang tinggi dan mampu bekerja keras dalam industri dan perdagangan dengan membawa keuntungan yang besar.
Sejak tahun 1970 perhatian pemerintah terhadap masalah kependudukan berkembang, yaitu mengusahakan agar kekuatan yang besar itu kesehatan dan mutunya bertambah tinggi sehingga mampu memberi sumbangan yang berarti dalam mengisi kemerdekaan. Setiap penduduk tidak lagi diharapkan mengisi pembangunan secara seragam, tiap individu bisa memberi sumbangan sesuai pilihannya. Namun karena kemampuan setiap anak bangsa terbatas, pemerintah segera bekerja keras meningkatkan mutu penduduk yang mulai melimpah.
Perbaikan kualitas anak bangsa dimulai pada awal tahun 1970-an melalui program pembangunan terpadu, diantaranya dengan memperingan beban setiap keluarga melalui program kesehatan, KB, pendidikan dan pemberdayaan keluarga. Bersamaan dengan berbagai program pembangunan lainnya, program terpadu itu telah membawa dampak yang menggembirakan. Pertumbuhan penduduk mulai dapat
dikendalikan, jumlah anggota keluarga mulai dapat diperkecil, tingkat kesehatan masyarakat makin bertambah baik sehingga usia harapan hidup yang semula berada dibawah angka 50 tahun, berhasil dinaikkan menjadi sekitar 65 tahun, tingkat partisipasi pendidikan dasar makin diperbaiki.
Hasil-hasil pembangunan itu mengantar penduduk Indonesia memasuki proses transformasi dalam struktur dan ciri yang lebih menguntungkan dibandingkan masa lalu. Tingkat pendidikan dan tingkat kemiskinan secara umum bertambah baik. Namun harus diakui bahwa dalam beberapa hal, tingkat pendidikan dan tingkat kemiskinan yang baru itu masih bersifat awal dan sangat rentan, sehingga hanya dengan gangguan sedikit saja, misalnya krisis sosial ekonomi yang berkepanjangan, keluarga Indonesia goncang, tidak bisa bertahan, tidak berdaya dan jatuh miskin kembali.
Dengan adanya perubahan struktur dan ciri-ciri penduduk yang makin baik, makin urban dan modern, penduduk sebagai sumber daya manusia yang melimpah, lebih-lebih dalam alam demokrasi yang makin marak dan transparan, dengan dukungan dan pendampingan, strategi pembangunan dapat mulai dipercayakan kepada penduduk sebagai perencana dan kekuatan penggerak pembangunan. Upaya memberi kesempatan kepada penduduk untuk berpartisipasi dalam pembangunan, antara lain dalam bidang politik dengan pilihan langsung, terbukti ampuh dan bisa berlangsung dengan baik.
Oleh karena itu tidak ada alasan untuk menunda lagi peningkatan pemahaman falsafah dasar Pancasila, daya tahan, kemampuan dan dinamika penduduk dan keluarga Indonesia agar segera mampu menjadi kekuatan pembangunan yang lebih dapat diandalkan. Penduduk dan keluarga Indonesia harus ditingkatkan kualitas dan dinamikanya. Karena itu penduduk harus menjadi titik sentral pembangunan.
Penduduk Indonesia tahun 2000, menurut angka sementara hasil Sensus tahun 2000 tercatat sebanyak 201 juta, atau setelah dimasukkan mereka yang tidak tercatat dan koreksi lainnya, penduduk pada tahun 2000 dinyatakan sebanyak 206 juta jiwa. Proyeksi sederhana menghasilkan penduduk pada tahun 2004 sebanyak 214 -215 juta jiwa.

Ada beberapa alasan menganggap penduduk Indonesia siap untuk dijadikan sasaran dan pemeran utama dalam pembangunan. Untuk mengembangkan pembangunan berwawasan kependudukan, dengan memperhatikan bahwa pada tahun 2000 - 2004 serta lima tahun yang akan datang, struktur dan ciri-ciri penduduk itu lebih siap untuk berperan dan berkiprah dalam pembangunan.
* Sebagai potensi untuk berperan dalam pembangunan serta sekaligus sebagai pasar produk domestik untuk kebutuhan manusia, penduduk Indonesia besar jumlahnya. Lebih dari itu pertambahannya setiap tahun juga akan besar;
* Penduduk Indonesia relatif mudah ditangani karena pertumbuhannya lamban yang ditandai dengan tingkat pertumbuhan yang rendah, tingkat kelahiran dan tingkat kematian yang rendah. Potensi orang tua, laki-laki dan perempuan bisa berperan secara maksimal karena tingkat kelahiran yang rendah. Upaya peningkatan kualitas penduduk bisa dimulai dari usia yang sangat dini karena tidak terlalu berkejaran dengan kelahiran yang tinggi. Pengeluaran keluarga tidak hilang percuma karena tingkat kesakitan, kematian dan tingkat kelahiran yang rendah;
Struktur Penduduk Indonesia tidak lagi tergolong muda, tetapi lebih dewasa dan lebih siap bekerja sehingga setiap penduduk bisa diberdayakan untuk menghasilkan sesuatu untuk dirinya sehingga tidak membebani keluarga dan masyarakat pada umumnya;
Penduduk usia dewasa merupakan potensi paling tinggi yang sehingga dengan penanganan dan pemberdayaan kualitas yang baik dapat menghasilkan peningkatan pendapatan nasional yang sangat besar. Peningkatan jumlah penduduk usia dewasa lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah penduduk usia sama pada tahun 1970-an. Apabila diikuti dengan program pemberdayaan yang benar diharapkan dapat memberi sumbangan yang tinggi terhadap pendapatan keluarga dan bangsa secara menyeluruh;
Penduduk perkotaan makin besar jumlah dan prosentasenya karena berubahnya daerah dan karena perpindahan penduduk pedesaan ke daerah perkotaan. Prosentase penduduk perkotaan yang besar ini merangsang pola ekonomi yang lebih rasional dibandingkan dengan penduduk yang mayoritas di daerah pedesaan saja;
Biarpun partisipasi pendidikan dasar sudah tinggi tetapi penduduk usia sekolah menengah atas dan usia diatasnya, sebagian besar masih belum sekolah dan mencari kerja;
Penduduk Indonesia masih miskin dan mempunyai ketrampilan yang sangat terbatas sehingga upaya-upaya pembangunan, apabila disertai pemberdayaan yang tepat, akan bisa dengan mudah meningkatkan pendapatan penduduk dan menambah kesejahteraan keluarga;
Jumlah generasi tua atau lansia berlipat dan sebagian besar masih mempunyai potensi ikut menyumbang dalam pembangunan. Dengan model seperti Singapore dan Jepang, yaitu lansia yang tetap bekerja, potensi tenaga muda bisa diarahkan kepada usaha yang mempunyai nilai
tambah yang lebih besar apabila lansia mendapat kesempatan kerja sesuai dengan kemampuannya.
Gambaran diatas menunjukkan adanya perubahan strukturdan ciri-ciri penduduk masa kini yang lebih siap berpartisipasi dalam pembangunan. Karena itu perlu perubahan cara "pemasaran Pancasila" sebagai dasarfalsafah partisipasi bangsa pembangunan, penanganan, atau minimal perlu arah baru agar penduduk dan keluarganya berperan lebih aktif dalam pembangunan, tetap dalam koridor yang benar. Tuntutan perubahan itu harus menghasilkan strategi pembangunan dengan visi dan misi yang jelas dengan menempatkan penduduk sebagai titik sentral pembangunan. Pembangunan yang menempatkan penduduk sebagai pelaku pembangunan harus dilakukan dengan terlebih dulu mempersiapkan penduduk yang potensial melalui pemberdayaan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan.
Lebih penting daripada itu, penduduk yang baru dibangkitkan harus mendapat kesempatan yang luas. Pembangunan yang memihak sekaligusdiharapkan menjadi upaya peningkatan mutu penduduk yang secara internasional diukurdengan indikator nilai Human Development Index (HDI). Kita mengetahui bahwa nilai HDI bangsa ini sangat rendah, pada urutan nomor 111 dari 177 negara di dunia. Nilai HDI Indonesia sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan seluruh negara ASEAN lainnya, termasuk selalu dibawah nilai HDI dari Vietnam, negara baru yang bangkit dengan kuat.
Strategi pembangunan yang memihak tersebut memerlukan kepemimpinan atau leadership yang berpandangan luas kedepan atau biasa disebut visionary leadership. Kepemimpinan ini perlu didukung suatu lembaga birokrasi yang berwawasan luas, yang menurut istilah David Osborne dan Ted Gaebler disebut sebagai suatu upaya Reinventing Governement. Para mahasiswa yang diwisuda hari ini mempunyai kesempatan luas untuk ikut mengembangkan perubahan itu dalam rangka reformasi yang luas.
Menurut David Osborne dan Ted Gaebler arah perubahan yang dikembangkan adalah memunculkan pemerintahan wirausaha. Yang dimaksud adalah suatu tatanan birokrasi yang berorientasi pada hasil, pada produk, dan mempunyai visi dan misi yang jelas sehingga mampu memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan atau rakyatyang
telah memilihnya. Pemerintahan yang berorientasi wirausaha ini memisahkan antara tugas-tugas mengarahkan dari tugas-tugas menyibukkan diri dengan mengerjakannya sendiri. Bahkan menjauhkan praktek-praktek aparat pemerintah yang "memproyekkan" setiap pelayanan masyarakat seperti selama ini menjadi tontonan rakyat banyak.
Pemerintahan atau organisasi yang digerakkan oleh visi dan misi pada umumnya mempunyai ciri-ciri yang lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan atau organisasi yang digerakkan oleh peraturan. Kelebihan itu antara lain sebagai berikut:

-Lebih efisien;
-Lebih efektif;
-Lebih innovatif;
-Lebih fleksibel;
-Dan lebih bersemangat.

Lebih lanjut daripada itu apabila pemerintah mengambil peran mengarahkan dan memberikan dukungan fasilitasi, pemerintah akan lebih banyak menyerahkan wewenang kepada masyarakat. Penyerahan wewenang kepada masyarkat itu, kalau diikuti dengan pemahaman yang tepat atas falsafah Pancasila sebagai pedoman umum yang makin jelas, seperti halnya pemilihan presiden dan wakil presiden baru-baru ini, menghasilkan beberapa nilai positif antara lain sebagai berikut:

-Masyarakat memiliki komitmen lebih besar dibanding bila hanya menerima pelayanan aparat
birokrasi;
-Masyarakat lebih memahami masalah dan kebutuhannya sendiri;
-Birokrasi memberikan pelayanan, masyarakat menyelesaikan masalah;
-Birokrasi menawarkan pelayanan, masyarakat menawarkan kepedulian;
-Birokrasi cenderung kaku, masyarakat lebih fleksibel dan kreatif;
-Masyarakat lebih murah dibanding birokrasi;
-Masyarakat punya standar pelayanan lebih efektif dibanding birokrasi.

Dengan adanya perubahan, yang telah diramal oleh Peter F. Drucker akan terjadi pada abad ke 21, mahasiswa yang diwisuda hari ini mempunyai kesempatan emas untuk ikut aktif menjadi pelaku pengelola masa transisi dari pelayanan pemerintah ke pemberian wewenang yang lebih besar kepada masyarakat. Karena adanya kesempatan itu, setiap mahasiswa yang lulus dan diwisuda harus mampu untuk tidak saja menyiapkan diri secara profesional dan siap bekerja, tetapi mengajak masyarakat mengambil partisipasi yang luas dan tidak pandang bulu. Sukses pemberian wewenang dari birokrasi kepada masyarakat adalah adanya partisipasi secara demokratis, bermutu dan luas. Bukan sekedar partisipasi dalam bidang politik praktis dengan demo dan orasi publik, tetapi partisipasi yang dinamis dan profesional dalam berbagai bidang, terutama pada bidang-bidang yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak.
Karena itu, baik dalam pemerintahan maupun dalam organisasi yang berorientasi pada pembangunan dengan landasan falsafah Pancasila yang menjiwai visi dan misi yang memihak rakyat banyak, kita harus sanggup melakukan transformasi birokrasi dari pemerintahan yang digerakkan oleh peraturan menjadi suatu pemerintahan atau organisasi yang digerakkan oleh misi dan visi yang jelas dan memihak rakyat banyak. Kita harus sanggup menyuntikkan keunggulan dan sistem anggaran yang digerakkan oleh visi dan misi, bukan semata-mata lembaga dianggap besar karena mempunyai kuasa atau bisa meyakinkan DPR atau DPRD mendapatkan anggaran yang banyak dengan cara-cara yang tidak elegan.
Dengan cara pandang demikian, organisasi atau pemerintah yang menganut visi, misi dan menempatkan manusia sebagai titik sentralnya harus berorientasi pada hasil, bukan pada masukan atau anggaran yang dibengkakkan karena alasan yang dicari-cari. Pemerintahan yang berorientasi pada hasil tersebut, akan otomatis menganut orientasi kepada pelanggan yang secara bertahap dikembangkan menjadi pelaku yang dinamis. Pemerintahan yang berorientasi hasil diharapkan melihat orientasi pada manusia sebagai investasi peningkatan mutu dan kesejahteraannya, suatu dorongan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang handal, yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan berlipat ganda di masa depan, jauh lebih besar dibandingkan dana yang dibelanjakan untuk pembiayaan pemberdayaan tersebut.
Program dan kegiatan yang menempatkan manusia sebagai titik sentral tersebut akan mendapat dukungan masyarakat dan keluarga secara luas karena menyentuh harkat dan martabat manusia yang hakiki. Program-program itu akan memudahkan rakyat banyak mencapai cita-cita sesuai dengan aspirasi pribadi yang dimungkinkan berkembang dalam alam demokratis yang Pancasilais. Dukungan lembaga internasional diharapkan akan mengalir kembali karena pelaksanaan berbagai program yang menempatkan manusia sebagai titik sentral sesungguhnya merupakan langkah strategis dalam upaya peningkatan mutu manusia sesuai dengan dimensi yang menyuburkan penghargaan terhadap manusia yang beradab sesuai Pancasila dan target universal hak-hak azasi manusia.
Sesuai dengan harapan itu, mahasiswa yang hari ini diwisuda jangan dihinggapi sifat-sifat malas. llmu pengetahuan dan tehnologi berkembang dengan
kecepatan yang sangattinggi. Karena itu dosen dan mahasiswa harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi karena kekuatan baru yang bisa memberi dukungan terhadap kemajuan orang seorang adalah kemampuan adaptasi, kemampuan mengambil tanggung jawab, mengembangkan visi
bersama, memberdayakan orang lain, bernegosiasi dengan hasil gemilang, dan mengontrol tingkah laku peri kehidupan. Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Mereka yang merasa puas sekedar mengikuti kuliah dari dosen, setelah lulus, akan memperoleh upah yang terendah dan akan lebih sering kecewa dalam pekerjaannya. Abad ke 21 adalah abad revolusi ilmu pengetahuan, komunikasi dan tehnologi yang sangat dinamis. Dalam masyarakat yang menuju kepada masyarakat ilmu pengetahuan sekarang ini, kemampuan menambah ilmu dan tehnologi akan menjamin terbukanya kesempatan dan kemajuan tiada akhir.

Revolusi ilmu, komunikasi dan tehnologi tidak lain adalah revolusi kekuatan. Makin banyak upaya dipercayakan kepada sumber daya manusia yang mempunyai kemampuan ilmu dan tehnologi. Kalau dalam revolusi industri kepercayaan ditumpahkan pada manager lapangan yang mampu mengelola manufaktur dan bahan-baku produksi, revolusi komunikasi menitik beratkan bobot kepercayaannya pada entreprenur intelektual yang mempunyai kemampuan tehnis yang kuat dan latar belakang pendidikan ekonomi dan ilmu kemasyarakatan yang luas. Karena itu para ahli tidak saja menjadi pelengkap yang berdiri dibelakang layar, tetapi tampil sebagai pemimpin yang dipercaya mengambil keputusan-keputusan penting.
Karenanya setiap dosen, mahasiswa dan siswa harus rajin menambah ilmu dan tehnologi dari berbagai sumber, tetapi menghindarkan diri dari berpikir sebagai seorang ahli. Dengan ilmu pengetahuan yang berkembang mengikuti deret ukur, penambahan ilmu pengetahuan dan tehnologi merupakan pengalaman sepanjang hayat, bukan lagi pengumpulan fakta dan keahlian. Berbeda dengan masa lalu, apa yang kita pelajari di sekolah, relatif cukup untuk bekal menempuh hidup yang tenang hampir tanpa tantangan. Namun pada masa globalisasi yang dahsyat dewasa ini, kita bekerja dengan banyak orang, dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda, karenanya pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi tidak lagi dapat dilakukan hanya di dalam kelas atau di ruang kuliah, tetapi harus juga dengan mendalami diri sendiri dan orang lain dengan siapa kita bekerja sama.
Dengan landasan filosofi dasar Pancasila dan latar belakang yang secara singkat saya uraikan diatas, para dosen, mahasiswa dan siswa, terutama dosen dan mahasiwa dari Universitas Islam Majapahit saya ajak mengembangkan pengabdian kepada masyarakat dan kepada bangsa Indonesia yang sangat kita cintai. Pengabdian itu tidak lain harus merupakan bukti kecintaan kita kepada bangsa Indonesia melalui upaya apapun yang akhirnya terakumulasi sebagai upaya membantu mengangkat derajat dan martabat anak bangsa dalam suasana dan jaman informasi, komunikasi dan tehnologi yang berubah dengan sangat cepatnya.
Kita harus mampu melihat bahwa setiap hari kehidupan anak bangsa terpaksa mengalami perubahan akibat arus globalisasi yang
melanda seluruh pelosok dunia dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kita harus waspada bahwa dalam suasana itu banyak anak bangsa yang tidak mampu mengadakan penyesuaian, atau mengikuti arus deras dalam tatanan yang positif, dan memanfaatkannya. Akibatnya banyak anak bangsa yang tersingkir, bahkan terpuruk tidak dapat bangkit lagi sebagai warga negara terhormat yang bermartabat. Upaya mengatasinya bertumpu pada pemberdayaan sumberdaya manusia. Itulah sebabnya Universtias Airlangga di Surabaya, dan lembaga lainnya, membentuk Lembaga Indonesia untuk Pengembangan Manusia (LIPM) atau Indonesian Institute for Human Development (HMD) yang tujuannya tidak lain adalah menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan. Saya mengajak para lulusan dan seluruh civitas academica membantu pengembangan lembaga tersebut.
Akhirnya, saya ucapkan selamat kepada semua lulusan dan kerabatnya, para dosen dan guru besar yang mengasuh dan semoga tetap mengembangkan diri sepanjang hayat. Semoga Universitas Islam Majapahit makin jaya dan disayangi masyarakat luas.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

qProf Dr Haryono Suyono
  
 
Berita Sebelumnya :
BALI AYU MENGENTASKAN KEMISKINAN
MENGABDI KEPADA RAKYAT
BERSAMA PASTI BISA
KEBERSAMAAN MEMUASKAN MINAT BERAGAM
MENYONGSONG PROGRAM PEMBANGUNAN KUALITAS MANUSIA YANG BERADAB
MEMBANGUN PERSAHABATAN DUNIA
MENYEGARKAN GERAKAN PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUKAN
MANISNYA TAPE KETAN
MELAKSANAKAN AMANAH RAKYAT
TANTANGAN YANG LUAR BIASA


« kembali »    « Index Artikel »







Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra

Home | Profil | Visi Misi | Redaksi | Buku Tamu | Kontak
Redaksi KBI Gemari : redaksikbi@gemari.or.id
Copyright © 2004 KBI.Gemari.or.id
design by GemariOnline